28 November 2015

Jamie Vardy dan Nasib Leicester City

Begini, dia ini seperti seseorang yang asing. Memang asing sih. Kemudian menjadi sorotan bagi seluruh penikmat sepakbola. Tepatnya, pada tanggal 29 November 2015. Ia berhasil mencetak 14 gol dalam 14 pertandingannya di lliga. Dan anda bayangkan, 11 diantaranya terjadi secara berturut-turut. Demikian memecahkan rekor Ruud van Nistelrooy, eks pemain Manchester United.

 Pertanyaan muncul, mampu apa tidak Leicester city mempertahankannya? Oh ya, sebut saja Jamie Vardy. Karena gini, pemain berusia 28 tahun ini dan The Foxes, julukan Leicester, jika di ibaratkan seperti Simbiosis Mutualisme, saling menguntungkan. Imajiniasi saya melayang, seandainya Vardy di beli oleh club lain. Bagaimana dengan nasib Leicester City. Karena ini bukan keterkaitan antara Ranieri dengan clubnya. Tapi Vardy dan Leicester, atau bisa juga dengan fansnya.

  
 Coba lirik The Guardian, ada nama Vardy di dalam daftar belanja Real Madrid. Bahkan berita lain, Manchester United juga tertarik!

  
 Beruntungnya adalah posisi saya bukan  fans Leicester. Karena saya tidak ingin merasakan kesedihan seperti Van Persie yang menuju Manchester United. Begitupun dengan Vardy, saya harap pemain yang satu ini tetap bertahan di clubnya, agar persaingan Premier League semakin seru.


 Jamie Vardy dan King Power Stadium, nama stadion Leicester, sudah klop, sudah bersahabat. Jadi, semoga kebahagiaan terlimpah curah kepada fans Leicester di Inggris dan di Indonesia, jikalau Vardy bertahan. Bukan apa-apa. Ada 2 ketakutan. Misalnya, Vardy hijrah. Apakah nanti di club barunya akan sehebat di Leicester? Kedua, bagaimana Leicester tanpa dirinya? Okelah, ada nama Riyadi Mahrez, Okazaki, dll.  Tapi tetap, suasana akan berbeda tanpa dirinya.


Tentang Nasib


 Saya menyukai artikel dari coach timo yang berjudul “Leicester City Datang Bulan”. Yang di publikasikan lewat supersoccer. Saya sepakat, karena artikel itu menggambarkan tulisan ini dengan kata “Nasib”. Coba bayangkan, dalam 1 bulan ke depan meraka akan menghadapi jadwal yang berat, selain tadi vs MU, ada nama Swansea, Chelsea, Everton, Liverpool dan di akhiri lawan Manchester City. Jika terjungkal, bisa saja papan tengah mereka huni. Tidak seperti sekarang yang masih santai di posisi 4. Dan sebelum coach timo menulis preview LC vs MU, diakhiri dulu dengan kalimat “Inilah bulan pembuktian Leicester!”.


 Dan gini, boleh-boleh saja kok memprediksikan bahwa Leicester hanya sekedar kuda hitam di PL, tidak akan juara, saya pun berpikiran seperti itu. Bahkan seorang Jose Mourinho berkata demikian. “Saya tak percaya mereka bisa juara”. Namun, siapa yang hafal masa depan. Bisa saja nasib mereka mulus lalu juara.


***

 Kembali ke Jamie Vardy dan Leicester City. Bukan tidak mungkin ya pemain berkebangsaan inggris itu akan selalu terus mencetak gol. Saya yakin, entah berturut-turut ataupun tidak.


Terahir dari saya adalah semoga mereka (dibaca: Vardy dan Leicester) akan tetap bersama. Tadi sudah saya tulis, ibarat “Simbiosis Mutualisme”. Misalnya, seperti kupu-kupu dan bunga. Dimana bunga membutuhkan penyerbukan oleh kupu-kupu. Dan kupu-kupu mendapatklan nektar. Dimana Leicester membutuhkan 
Vardy. Dan Vardy mendapatkan sesuatu yang sepadan atas kinerja dirinya. Entah masalah penaikan gaji ataupun kenyamanan dan sebagainya. Ya, saling menguntungkan.